locus of control

pengaruh rasa kendali diri terhadap keberhasilan akademik

locus of control
I

Pernahkah kita mendapat nilai jelek lalu otomatis menyalahkan dosen yang killer? Atau mungkin kita mengutuk soal ujian yang menurut kita melenceng jauh dari silabus? Saya yakin kita semua pernah merasakannya. Rasanya memang nyaman sekali menjadikan alam semesta sebagai kambing hitam saat kita gagal. Tindakan ini secara instan melindungi ego kita dari rasa malu. Tapi mari kita pikirkan hal ini sebentar. Mengapa di kelas yang sama, dengan dosen killer yang sama persis, selalu ada satu atau dua orang yang anehnya tetap mendapat nilai A? Apa yang membedakan isi kepala mereka dengan kepala kita?

II

Jawabannya mungkin bukan karena mereka lahir lebih cerdas. Mereka juga belum tentu punya IQ setingkat Albert Einstein atau memiliki privilese belajar yang luar biasa. Menariknya, sains memiliki penjelasan yang jauh lebih sederhana, namun efeknya sangat mendalam bagi kelangsungan hidup kita. Ini semua bermuara pada bagaimana cara kita melihat "stir kemudi" dalam realitas kita. Coba bayangkan kita sedang berada di dalam sebuah mobil yang melaju sangat kencang. Pertanyaannya, siapa yang kita yakini sedang memegang kendali? Apakah kita yang sedang mantap menyetir di depan? Ataukah kita merasa cuma duduk pasrah di kursi penumpang belakang, sambil komat-kamit berharap mobilnya tidak menabrak pohon?

III

Untuk menjawab misteri mobil tadi, kita harus mundur sejenak ke tahun 1954. Saat itu, seorang psikolog klinis brilian bernama Julian Rotter memperkenalkan sebuah konsep psikologi yang disebut locus of control atau titik kendali. Sederhananya, ini adalah alat ukur tentang seberapa besar keyakinan kita bahwa kita punya kuasa atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Rotter membaginya menjadi dua kubu ekstrem. Pertama, locus of control eksternal. Kalau kita berada di kubu ini, kita sangat percaya bahwa nasib, keberuntungan, sistem, atau orang lain adalah sutradara utama hidup kita. Gagal ujian? "Dosennya memang sentimen sama saya." Dapat nilai bagus? "Lagi hoki saja pas tebakan saya benar."

Kubu kedua adalah kebalikannya, yaitu locus of control internal. Orang di kubu ini punya keyakinan absolut bahwa kitalah penulis tunggal dari naskah hidup kita sendiri. Gagal ujian? "Oke, strategi belajar saya semalam pasti ada yang salah." Dapat nilai bagus? "Wajar, saya memang membedah materi ini mati-matian." Puluhan tahun setelah Rotter mencetuskan ide ini, penelitian neurologi modern menemukan pola yang menakjubkan. Otak orang yang memiliki kendali internal ternyata menyala dengan pola yang berbeda saat mereka dihadapkan pada sebuah krisis.

IV

Lalu, apa hubungannya hal ini dengan keberhasilan akademik kita? Di sinilah penemuan terbesarnya terungkap. Mahasiswa yang memiliki locus of control internal tidak pernah melihat nilai D sebagai vonis mati dari semesta. Secara biologis, saat mereka menemui jalan buntu, otak mereka memproduksi lebih banyak dopamin saat mencoba mencari solusi baru. Mereka merasa punya kuasa untuk mengotak-atik hasil akhirnya. Dalam dunia akademik, rasa memiliki kuasa ini adalah senjata penyelesaian masalah yang paling mematikan. Berbagai studi meta-analisis secara konsisten membuktikan bahwa pelajar dengan titik kendali internal memiliki IPK yang lebih tinggi. Mereka juga terbukti lebih kebal menghadapi burnout dan jarang terjerumus dalam siklus menunda-nunda pekerjaan. Mengapa bisa begitu? Karena mereka sadar betul bahwa menunggu mood datang atau berharap dosen tiba-tiba berbaik hati adalah sebuah investasi bodong. Kesuksesan akademik ternyata bukan cuma soal seberapa hafal kita pada buku teks, melainkan berakar dari satu keyakinan psikologis yang kuat: "Usaha saya, bagaimanapun bentuknya, pasti akan mengubah keadaan."

V

Tentu saja, kita harus realistis karena kita tidak bisa mengontrol semuanya di dunia ini. Kadang sistem pendidikan kita memang masih berantakan. Kadang fasilitas kampus tidak memadai, atau mungkin kita sedang dalam kondisi fisik yang sakit. Itu semua adalah fakta kehidupan yang sah dan tidak perlu disangkal. Memiliki locus of control internal bukan berarti kita harus jadi toxic positive lalu menyalahkan diri sendiri untuk musibah yang jelas-jelas di luar kuasa kita. Ilmu ini sebenarnya mengajarkan kita untuk menggeser fokus. Di tengah situasi kampus yang paling kacau sekalipun, selalu ada satu ruang kecil yang murni berada di bawah kendali kita. Entah itu keputusan untuk menambah jam baca jurnal hari ini, atau sekadar keberanian untuk bertanya ke teman yang lebih paham. Teman-teman, pada akhirnya gelar, ijazah, atau transkrip nilai hanyalah tumpukan kertas. Namun, kemampuan mental untuk sadar bahwa tangan kitalah yang sedang memegang kemudi nasib kita, itu adalah pelajaran paling berharga yang bisa kita bawa sampai mati. Jadi, besok kalau nilai ujian kita jelek lagi, mari kita tarik napas panjang, berdamai dengan keadaan, dan mulai bertanya pada diri sendiri: "Apa yang bisa saya lakukan secara berbeda hari ini?"